Kamis, 09 Mei 2013

Adat Budaya Melayu Sambas Saprahan

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Saprahan merupakan salah satu adat budaya melayu di kabupaten Sambas yang masih berkembang dan dilestarikan sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. Adat tradisi dalam kegiatan makan bersama-sama berkelompok baik di dalam rumah sehari-hari ataupun dalam acara mengundang tamu ataupun acara-acara pesta yang di adakan dirumah ataupun di desa. Hidangan lauk pauk disajikan pada tempat dinamakan baki ataupun dihamparan kain untuk disantap bersama-sama berkelompok sejumlah 6 orang setiap saprah dengan duduk bersila di atas hamparan tikar ataupun permadani untuk undangan laki-laki dan duduk pipih untuk undangan wanita.
Makna dari saprahan melambangkan rasa kebersamaan dan rasa kegotong royongan dengan falsafat bert sama dipikul, ringan sama dijinjing, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Hidangan sajian yang terhidang dihadapan disantap bersama-sama kelompok, membentuk lingkaran.sajian disantap tidak menggunakan sendok makan tetapi disuap dengan tangan sedangkan untuk mengambil lauk pauk digunakan sendok. Kepala saprah adalah sajian untuk para tamu yang paling dihormati yang hadir dlam acara saprahan, seperti pemimpin daerah, orang ternama, alim ulama yang duduknya telah di atur menurut tempat yang disiapkan.
Makna dan pengertian saprahan dalam masyarakat melayu sambas yang identik dengan agama islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tetap dilestarikan dan dipelihara, berpedoman pada enam rukun iman dan lima rukun islam.
Makna besaprah disantap oleh 6 orang setiap saprahnya dengan pengertian rukun iman, dan untuk lauk pauk yang dihidangkan biasanya 5 piring atau lima jenis yang mengandung rukun islam.
Makna besaprah harus bersama sama serempak mulai menyusun dari atas hingga ke bawahatau dari yang tertua hingga yang muda.
Tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa, pimpinan, dan pemuka-pemuka masyarakat duduk menghadap sajian saprahan, makan dengan teratur, sopan, dan beradat.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana adat tradisi saprahan melayu sambas di Kabupaten Sambas?
2.      Bagaimana bentuk saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas?
3.      Bagaimana Jenis-jenis saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas?
4.      Apa saja macam-macam dan menu saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas?
5.      Apa saja yang termasuk tempat dan alat saprahan?
C.    Tujuan Penelitian
1.       Agar mahasiswa dapat mengetahui adat tradisi saprahan melayu sambas di Kabupaten Sambas
2.      Agar mahasiswa dapat mengetahui bentuk saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas.
3.      Agar mahasiswa dapat mengetahui Jenis-jenis saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas.
4.      Agar mahasiswa dapat mengetahui macam-macam dan menu saprahan melayu Sambas di Kabupaten Sambas.
5.      Agar mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang termasuk tempat dan alat saprahan?



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Tradisi Saprahan
Dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Sambas terutama masyarakat melayu Sambas, SAPRAHAN merupakan adat tradisi kebiasaan turun temurun dalam menghidangkan makanan yang dilakukan sehari-hari di rumah tangga terutama di desa-desa.kegiatan ini juga dilaksanakan jika menerima tamu yang dating ke rumah, maka dihidangkan acara saprahan yang sederhana saja. Dalam kegiatan yang mengundang tamu seperti pada acara-acara perayaan pesta perkawinan, hataman, syukuran dan lain-lain di berikan hidangan dengan SAPRAHAN.
SAPRAHAN merupakan acara makan bersama dengan duduk bersila berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 ( enam ) orang. Dalam kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, acara saprahanmenjadi keharusan bagi masyarakat Sambas terutama dalam mengadakan pesta yang mengundang tamu atau masyarakat untuk hadir dalam jamuan yang diadakan.
Sejak dahulu kala atau tempo dulu hingga sekarang ini BUDAYA SAPRAHAN selalu masih giat dilaksanakan dalam kegiatan sehari-haridalam rumah tangga dan perayaan ataupun dalam pesta.
Adapun manfaat SAPRAHAN adalah :
1.    Mempererat silaturahmi keluarga ataupun anggota mastarakat dengan masyarakat lainnya.
2.    Sebagai wahana interaksi dalam menyampaikan informasi.
3.    Sebagai sarana dakwah dalam kegiatan keagamaan.
4.    Rasa kebersamaan, saling mengenal antara sesame undangan atau tamu yang menghadiri pesta yang diadakan.
5.    Melestarikan BUDAYA pusaka nenek moyang.
B.     BENTUK SAPRAHAN
Melihat bentuk saprahan ada2 macam :
1.    Saprahan Memanjang
Yaitu sajian makanan disusun disajikan di atas kain yang memanjang sepanjang ruangan yang disiapkan tempat acara jamuan. Tamu duduk berhadapan diruangan yang disiapkan.
Saprahan bentuk memanjang ini sudah tidak di adakan dan tidak ada lagi di Kabupaten Sambas.inilah perbedaan saprahan yang ada di kabupaten Sambas dengan kabupaten lainnya.
2.    Saprahan Pendek
Yaitu membentangkan kain saprahan  ( alas ) ukuran pendek 1 x 1 meter saja dan di atasnya hamparan tersebut diletakkan sajian makanan yang akan disantap oleh para tamu undangan.
Tiap saprahan pendek ini dihadapi oleh 6 orang setiap saprahan dengan cara duduk melingkari saprahan.
Saprahan bentuk pendek inilah yang masih dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sambas hingga sekarang ini.


C.    Jenis Saprahan
Dari bentuk saprahan pendek, pengaturan penyajian saprahan sampai sekarang ada 3 jenis yaitu :
1.    Saprahan Bulat
Saprahan diatas hamparan kain saprah 1 x 1 meter. Ditengah kain saprahan itu diletakkan pinggan saprah tempat nasi dan dikelilingi oleh lauk pauk dan diteruskan dengan pinggan nasi. Di ujung sebelah depan diletakkan batil dan gelas tempat mencuci tangan sebelum makan. Dan disebelah belakang diletakkan air minum.
2.    Saprahan Membujur dengan alas saprah
Saprahan beralaskan kain saprah 1 x 1 meter. Ditengah alas kainini diletakkan lauk pauk dalam piring lauk. Di ujung saprahan atau pada ujung saprahan diletakkan pinggan saprah dan bergandengan dengan air cuci tangan didalam batel atau tempat air. Disamping piring lauk diletakkan pinggan-pinggan tempat nasi yang akan diisi nasi dan lauk-lauk sesuai dengan selera dan keinginan dari para tamu yang sedang menyantap masakan yang disajikan dihadapannya. Pada ujung sekali diletakkan dan disusun cawan atau gelas air minum sebanyak 6 buah.
3.    Saprahan membujur dengan alas baki
Adalah saprahan dengan susunan sebagai berikut :
Pinggan saprah tempat nasi diletakkan di atas sekali bergandengan dengan batel air cuci tangan diikuti dengan baki besar yang berisi lauk pauk sajian yang diletakkan pinggan tempat mengambil nasi dan lauk-pauk di tengah-tengah. Dikiri kanan baki lauk diletakkan,lauk pauk sebanyak 6 macam, dan diujung diletakkan baki cawan atau gelas air minum.
D.    Macam-macam Saprahan dan Menunya
Melihat macam-macam hidangan saprahan ada 3 jenis :
1.         Jenis hidangan saprahan sehari-hari
Hal ini dilaksanakan didalam kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga pada waktu makan bersama sekeluarga. Jumlah peserta yang ikut menyantap hidangan tidak semestinya 6 orang tergantung jumlah penghuni didalam rumah.
Ataupun pada waktu menerima tamu yang datang, biasanya keluarga jauh yang datang bermalam dan sajian yang disantap adalah masakan biasa-biasa saja yang ada sehari-hari. Keluarga dan tamu menyantap bersama duduk bersila ditikar atau hamparan tikar.
2.         Hidangan saprahan hari kaccik ( hari turun naik )
Adalah hidangan saprahan pada waktu menyambut atau sebelum atau sesudah hari pesta yang akan diadakan acara menyiapkan segala sesuatu keperluan dan perlengkapan pesta atau perayaan-perayaan, disiapkan masakan dengan menu masakan yang biasa-biasa saja yang selalu disajikan dalam masyarakat desa seperti : sayur kampung, umbut kelapa, ikan asin, pedak caluk, sambal dan lainnya. Dan jika kebetulan tulang belulang sudah ada yang sudah dimasak maka disajikan juga.
3.         Sajian hidangan hari besar
Hidangan khusus hari besar pesta memang sudah disiapkan khusus jauh sebelumnya terutama dikerjakan pada hari sehari sebelum pesta. Sehari sebelumnya sejak pagi sudah dikerjakan pemotongn hewan-hewan seperti sapi, kambing,, ayam yang akan disajikan besok pada hari besar pesta. Rempah-rempah sudah disiapkan dikerjakan oleh para ibu-ibu yang ditugaskan sebagai tukang masak atau juru masak.
Sedangkan ibu-ibu yang datang membantu bersama-sama bergotong-royong menyelesaikan bumbu-bumbu yang telah diatur oleh juru masak yang telah diberikan kepercayaan hingga dalam waktu singkat telah disiapkan bumbu-bumbu yang telah diinginkan dan siap untuk dimasak. Memasak lauk pauk untuk hari besar ini dilakukan pada malam hari dari jam 19.00sampai dengan jam 05.00 pagi. Setelah semua masak masakan ini diserahkan pada seksi bekaut yang akan memasukkan dalam piring-piring yang telah disusun oleh seksi merancap alat pecah belah dan disusun di emper-emper dan siap untuk disajikan pada para undangan yang memang sudah di undang untuk menghadiri pesta.
Menu masakan pada hari besar :
Sebagai contoh yang sederhana :
1.      Masak putih ayam atau daging sapi
2.      Semur daging ayam atau daging sapi.
3.      Sambal goreng hati dan kentang.
4.      Goring ayam
5.      Pacri nenas atau terung.
6.      Telur asin.
7.      Acar.
8.      Dan lain-lainnya sesuai dengan daya kemampuan penyelenggara pesta.
( menu ini tentunya tidaklah sama setiap pesta hal ini dikarenakan kesanggupan masing-masing ).
E.     Tempat Alat Saprahan
Nama tempat dan alat yang biasa dibuat dan digunakan dalam acara saprahan adalah :
·         Tarup yaitu tempat menampung tamu yang datang diundang.
·         Emper-emper yaitu tempat menyusun piring lauk yang telah diisi masakan dan pinggan saprah yang diisi dengan nasi.
·         Pitadang yaitu tempat berkumpulnya ibu-ibu dalam membantu menggiling rempah atau membuat bumbu masakan untuk acara pesta.
·         Kawah yaitu kuali besar untuk memasak nasi atau lauk pauk yang banyak.
·         Tungkuk yaitu tempat meletakkan kuali atau kawah waktu memasak.
·         Baki yaitu baki besar untuk membawa piring lauk, dan baki kecil untuk membawa cawan atau gelas air minum.
·         Mogul yaitu tempat memasak air minum.

F.     Besurrung ( menyajikan saprahan )


Tata cara menyajikan saprahan mempunyai aturan yang tertentu. Hidangan yang akan disajikan di angkat dan di bawa oleh lima atau 6 orang tukang angkat sajian atau pramusaji atau tukang surung dan kegiatan ini biasa dinamakan besurrung. Besurrung adalah mengangkat sajian ke hadapan tamu undangan yang sedang duduk bersila dihamparan tikar permadani yang khusus.para undangan duduk berhadapan kiri dan kanan bersapyang tempat duduknya telah diatur oleh seksi pengatur tamu yang telah ditugaskan.
Penyurrung (tukang pembawa sajian ) adalah orang yang terpilih baik dalam penampilan, dengan memakai pakaian melayu yang sangat bersih dan rapi ( berbusana seragam ).






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Saprahan adalah salah satu adat budaya melayu Sambas dalam acara pesta.  Saprahan merupakan acara makan bersama dengan duduk bersila berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 orang. Acara saprahan ini merupakan acara wajib bagi masyrakat Kab. Sambas terutama dalam mengadakan acara pesta yang mengundang tamu atau masyarakat untuk hadir dalam jamuan yang diadakan.
makna dari saprahan melambangkan rasa kebersamaan dan rasa kegotong royongan dengan falsafat berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.hidangan sajian yang terhidang dihadapan disantap bersama-sama berkelompo, membentuk lingkaran.
Kelengkapan dalam saprahan terdiri dari kain saprah berukuran 1 x 1 meter,batil dan gelas air minum, sebuah pinggan saprah atau tempat nasi, piring tempat lauk atau menu, cawan bertudung, sendok nasi, sendok lauk,baki besar untuk mengangkat lauk, baki kecil untuk mengangkat cawan air minum, sarbet 1 buah untuk lap tangan ketika selesai menyantap sajian.
Adapun jenis saprahan ada 3 yaitu saprahan bulat, saprahan membujur dengan alas saprah, saprahan membujur dengan alas baki. Dalam saprahan ada juga terdapat macam-macam saprahan yaitu saprahan sehari-hari, saprahan hari kaccik, sajian hidangan hari besar.
Dalam sebuah pesta banyak hal yang perlu dipersiapkan yaitu bepinjam, beramu, begilling, merancap, bekaut menyiapkan sajian, bebasuk, mulangkan barang. Hal ini tidak lepas dari terbentuknya kepanitiaan.
Selain itu ada juga terdapat tingkat kelompok saprahan yang terdiri dari saprahan sangat sederhana,saprahan sederhana, saprahan acara pesta.

B.     SARAN
Kebudayaan dan adat istiadat setiap daerah berbeda-beda dan mempunyai ciri khas yang bermacam-macam. Dalam adat kebudayaan melayu Sambas ini sangat membawa pengaruh besar begi masyarakat Kab. Sambas apabila tidak dilestarikan dan dijaga dengan baik. Kebudayaan daerah sangat mengandung nilai-nilai luhur yang sangat wajib dipertahankan, dikembangkan, dan dilestarikan dengan mengenalkannya pada generasi penerus dan pada masyarakat ramai terutama masyarakat pendatang untuk mengetahui system budaya daerah yang sangat banyak dan beraneka ragam.
Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang cukup pesat, sangat mempermudah berlangsungnya hubungan antara suku-suku etnis dan antar warga masyarakat satu dengan yang lainnya.


 DAFTAR PUSTAKA
S. Arpan, ( 2009 ).  Saprahan Adat Budaya Melayu Sambas. Sambas : Arpan.
Depdikbud. RI. ( 1993/ 1994 ). Adat Istiadat Kalimantan Barat. Pontianak : Depdikbud.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes